Remaja Rentan Self Harm Saat Krisis Identitas: Ini Cara Mencegahnya

By | Juli 8, 2026

Masa remaja sering kali menjadi periode yang membingungkan, penuh dengan pertanyaan tentang siapa diri mereka sebenarnya dan di mana posisi mereka di dunia ini. Ketika remaja terjebak dalam krisis identitas yang mendalam dan tidak memiliki saluran emosional yang sehat, mereka menjadi sangat rentan melakukan self harm atau perilaku menyakiti diri sendiri. Perilaku ini sering kali bukan merupakan upaya untuk mengakhiri hidup, melainkan cara yang salah untuk menyalurkan rasa sakit emosional yang tak tertahankan. Sangat penting bagi lingkungan terdekat untuk mengenali tanda-tanda ini lebih awal.

Pemicu self harm pada remaja bisa sangat beragam, mulai dari penolakan sosial, tekanan akademik yang tinggi, hingga masalah keluarga. Di saat remaja merasa kehilangan kendali atas hidupnya, menyakiti diri sendiri menjadi semacam “pelarian” sesaat yang memberikan rasa lega secara emosional. Sayangnya, tindakan ini hanya memberikan kepuasan palsu yang berujung pada rasa bersalah dan malu yang lebih besar. Oleh karena itu, langkah pencegahan harus fokus pada penyediaan ruang aman di mana remaja dapat mengekspresikan perasaan mereka tanpa takut dihakimi oleh orang dewasa.

Langkah preventif pertama adalah membangun komunikasi terbuka. Orang tua harus menjadi pendengar yang aktif dan tidak terburu-buru menghakimi perilaku atau perasaan anaknya. Jika remaja menunjukkan tanda-tanda depresi atau kecenderungan untuk melakukan self harm, sangat penting untuk segera mencari bantuan profesional dari psikolog atau psikiater. Jangan pernah menganggap remeh masalah remaja dengan alasan “hanya fase biasa,” karena dukungan yang tepat di waktu yang tepat dapat menyelamatkan masa depan dan nyawa mereka dari bahaya yang lebih besar.

Selain bantuan medis, lingkungan pertemanan juga memiliki peran besar dalam mencegah self harm. Mendorong budaya saling mendukung dan empati di sekolah atau komunitas dapat menjadi pelindung bagi remaja yang merasa terisolasi. Mengajarkan mereka strategi regulasi emosi yang positif—seperti menulis jurnal, berolahraga, atau melakukan hobi yang konstruktif—dapat membantu mereka menyalurkan emosi negatif dengan cara yang jauh lebih sehat. Kita perlu menciptakan komunitas yang memahami bahwa setiap anak layak mendapatkan perhatian saat mereka merasa paling lemah.

Mari kita berkomitmen untuk memutus rantai perilaku self-harm di kalangan remaja. Dengan pemahaman, kesabaran, dan dukungan medis yang tepat, setiap remaja dapat melewati masa krisis identitasnya dengan lebih tangguh. Jangan biarkan mereka berjuang sendirian dengan rasa sakit batin yang mendalam. Dengan memberikan rasa aman, cinta, dan pemahaman yang tulus, kita membantu remaja untuk menemukan jati diri mereka kembali dan tumbuh menjadi pribadi yang sehat, bahagia, dan mampu menghadapi tantangan hidup dengan cara yang jauh lebih positif.